Membangun Ketangkasan di Alam Terbuka: Santri dan Guru SMP Akhlak Cendekia Muslim Sijunjung Dalami Teknik Kepanduan Bersama Kak Dede Agusmantri
SIJUNJUNG, Rangkaian kegiatan Daurah Asasiyah Li Al-Murabbi yang diselenggarakan oleh Yayasan Pendidikan Cendekia Muslim pada Sabtu, 8 Agustus 2026, semakin menunjukkan dinamika yang luar biasa. Setelah sebelumnya ditempa dengan kedisiplinan baris-berbaris, para peserta yang terdiri dari seluruh jajaran guru dan santri Sekolah Menengah Pertama (SMP) Akhlak Cendekia Muslim beralih ke materi ketangkasan lapangan yang sangat krusial dalam dunia kepanduan: teknik mendirikan tenda dan seni tali-temali.
Kegiatan yang berlangsung di area terbuka hijau kompleks pendidikan Cendekia Muslim Sijunjung ini dibimbing langsung oleh seorang instruktur berpengalaman, Kak Dede Agusmantri, S.Pd.I. Kehadiran beliau memberikan nuansa baru dalam penguasaan keterampilan hidup (life skills) yang sangat dibutuhkan bagi para kader pendidik dan santri masa depan di Ranah Lansek Manih.
Sesi dimulai dengan pendalaman materi tali-temali. Kak Dede Agusmantri dengan sangat teliti memperkenalkan berbagai jenis simpul yang menjadi fondasi dasar dalam kepanduan dan kegiatan alam bebas. Mulai dari simpul pangkal, simpul jangkar, simpul mati, hingga ikatan palang diajarkan satu per satu dengan metode demonstrasi yang interaktif.
Bagi para santri SMP Akhlak Cendekia Muslim, materi ini melatih fokus dan koordinasi motorik halus. Kak Dede menekankan bahwa setiap simpul memiliki filosofi tersendiri. Simpul yang benar tidak akan mudah lepas saat diberi beban, namun akan sangat mudah dibuka saat tidak lagi dibutuhkan. Hal ini, menurut beliau, mencerminkan karakter seorang muslim yang kuat dalam prinsip namun tetap fleksibel dalam interaksi sosial.
"Tali-temali adalah soal ketepatan dan kesabaran. Jika satu langkah salah, maka seluruh ikatan tidak akan berfungsi maksimal. Ini adalah pelajaran bagi guru dan santri bahwa dalam hidup, setiap keputusan harus diambil dengan perhitungan yang matang dan didasari oleh ilmu," ujar Kak Dede Agusmantri di sela-sela bimbingannya.
Para guru pun tampak antusias mengikuti instruksi. Mereka menyadari bahwa keterampilan ini sangat penting untuk diajarkan kembali kepada santri dalam kegiatan ekstrakurikuler kepanduan di masa mendatang. Sinergi antara guru dan santri saat mencoba menyambung tongkat menggunakan ikatan palang menciptakan suasana keakraban yang sangat kental.
Setelah mahir dengan berbagai simpul dasar, kegiatan berlanjut ke tantangan yang lebih besar: mendirikan tenda pleton dan tenda dome secara berkelompok. Di sinilah kepemimpinan dan kerja sama tim benar-benar diuji. Para santri dan guru dibagi ke dalam beberapa regu untuk mempraktikkan langsung teori yang telah diberikan.
Mendirikan tenda di bawah bimbingan Kak Dede Agusmantri bukan hanya soal memasang pasak dan tiang, melainkan soal komunikasi antaranggota regu. Bagaimana menentukan arah angin, memastikan ketegangan tali yang seimbang, hingga memastikan keamanan area tenda menjadi poin-poin evaluasi yang diberikan oleh Kak Dede.
"Mendirikan tenda adalah simulasi membangun rumah tangga atau organisasi. Jika satu orang tidak menarik tali dengan kuat, maka tenda akan miring. Jika pasak tidak tertanam dalam, maka tenda akan roboh diterjang angin. Semuanya harus bekerja dalam satu irama yang sama," tambah Kak Dede.
Kegiatan ketangkasan di hari Sabtu ini merupakan bagian integral dari visi Yayasan Pendidikan Cendekia Muslim untuk menghadirkan pendidikan yang seimbang antara aspek ruhiyah (spiritual), fikriyah (intelektual), dan jasmaniyah (fisik). Yayasan meyakini bahwa seorang cendekia muslim harus memiliki kemandirian dan kesiapan dalam menghadapi berbagai situasi, termasuk di alam bebas.
Ketua Yayasan Pendidikan Cendekia Muslim menyatakan bahwa pelibatan instruktur seperti Kak Dede Agusmantri bertujuan untuk memberikan standar keahlian yang mumpuni.
"Kami ingin di Sijunjung ini lahir generasi yang tangguh. Belajar tali-temali dan mendirikan tenda adalah bagian dari pembentukan karakter mandiri. Kami sangat bangga melihat guru dan santri SMP kami bahu-membahu di lapangan. Ini adalah bukti bahwa ekosistem pendidikan kami sangat dinamis," ungkapnya.
Fasilitas pendukung di Jalan Cendekia Muslim Sijunjung, yang kini semakin representatif, memungkinkan kegiatan luar ruang berskala besar seperti ini dapat terlaksana dengan aman dan nyaman. Dukungan dari masyarakat Nagari dan Bapak Jorong Pale juga terus mengalir, menjadikan sekolah ini sebagai kebanggaan warga Sijunjung.
Meskipun lapangan SMP Akhlak Cendekia Muslim dipenuhi dengan aktivitas intensif guru dan santri jenjang menengah pada Sabtu, 8 Agustus 2026 ini, pihak yayasan tetap konsisten menjalankan manajemen yang proporsional dan humanis. Ada pembagian beban aktivitas yang sangat memperhatikan usia perkembangan santri.
Berbeda dengan santri SMP dan para guru yang sedang menjalani "kawah candradimuka" melalui materi kepanduan, seluruh santri jenjang Kelompok Bermain (KB) Akhlak Cendekia Muslim menikmati masa istirahat mereka. Sesuai dengan kebijakan strategis yayasan, hari Sabtu adalah hari libur bagi santri jenjang KB.
Kebijakan libur Sabtu bagi santri KB ini diambil agar anak-anak usia dini (2-4 tahun) memiliki waktu yang cukup untuk beristirahat dan mendapatkan kasih sayang penuh dari orang tua di rumah (bonding time). Yayasan Pendidikan Cendekia Muslim meyakini bahwa pertumbuhan anak usia emas harus dijaga dari rasa jenuh dan kelelahan fisik yang berlebihan. Dengan memberikan libur di hari Sabtu, stamina santri KB tetap terjaga sehingga mereka selalu tampil ceria dan antusias saat kembali ke sekolah pada hari Senin. Sementara itu, bagi santri SMP, hari Sabtu dioptimalkan untuk pengasahan soft skills dan ketangkasan fisik seperti yang dilakukan bersama Kak Dede Agusmantri hari ini.
Kegiatan diakhiri dengan sesi evaluasi dan pembongkaran tenda secara rapi. Kak Dede Agusmantri memberikan apresiasi kepada regu-regu yang menunjukkan kekompakan terbaik. Beliau berharap keterampilan yang didapat hari ini tidak hanya berhenti di lapangan, tetapi dapat diaplikasikan dalam kegiatan perkemahan atau situasi darurat di masa depan.
Yayasan Pendidikan Cendekia Muslim berharap, melalui materi tali-temali dan mendirikan tenda ini, para santri SMP tumbuh menjadi pribadi yang cekatan, mandiri, dan mampu bekerja sama dalam tim. Inilah esensi dari pendidikan di Cendekia Muslim Sijunjung: membentuk manusia yang cerdas pikirannya, mulia akhlaknya, dan tangguh raganya untuk kemajuan umat dan bangsa.

