Mengukuhkan Jati Diri Nashir: Ustadz Dr. (H.C) Adhan Chaniago Kupas Tuntas Materi Kenashiran dalam Daurah Asasiyah di Sijunjung

Mengukuhkan Jati Diri Nashir: Ustadz Dr. (H.C) Adhan Chaniago Kupas Tuntas Materi Kenashiran dalam Daurah Asasiyah di Sijunjung

SIJUNJUNG, Atmosfer intelektual dan spiritual yang kental menyelimuti Aula Terbuka Yayasan Pendidikan Cendekia Muslim, Kabupaten Sijunjung, pada Sabtu, 8 Agustus 2026. Pasca seremoni pembukaan yang khidmat, agenda utama Daurah Asasiyah Li Al-Murabbi langsung memasuki sesi krusial dengan penyampaian materi pertama yang bersifat fundamental. Materi bertajuk "Kenashiran" tersebut disampaikan langsung oleh tokoh pendidik dan organisatoris kawakan, Ustadz Dr. (H.C) Adhan Chaniago, S.Pd., S.H., M.Pd., M.M.

Kehadiran Ustadz Adhan Chaniago sebagai pemateri perdana memberikan energi besar bagi seluruh peserta. Dengan latar belakang keilmuan yang multidisiplin—mencakup bidang pendidikan, hukum, hingga manajemen—beliau membedah esensi menjadi seorang "Nashir" (penolong/penggerak) dalam bingkai perjuangan pendidikan Islam di Ranah Lansek Manih.

Dalam paparan yang berlangsung selama kurang lebih tiga jam tersebut, Ustadz Adhan Chaniago menekankan bahwa Kenashiran bukan sekadar status kepegawaian atau profesi guru semata, melainkan sebuah identitas ideologis. Beliau menjelaskan bahwa setiap individu yang bergabung dalam Yayasan Pendidikan Cendekia Muslim, baik itu guru, staf Lembaga Pengembangan Pendidikan (LP2), maupun sekretariat, adalah seorang Nashir yang memiliki tanggung jawab moral untuk memenangkan nilai-nilai Al-Qur'an melalui jalur pendidikan.

 

"Menjadi seorang Nashir berarti kita telah mewakafkan diri, pikiran, dan tenaga kita untuk menjadi penolong agama Allah melalui lisan dan perbuatan di dunia pendidikan. Di Sijunjung ini, kita tidak hanya sedang membangun sekolah, kita sedang membangun peradaban. Oleh karena itu, pemahaman tentang Kenashiran adalah kunci agar kita tidak kehilangan arah di tengah jalan perjuangan," tegas Ustadz Adhan Chaniago di hadapan ratusan pasang mata yang menyimak dengan antusias.

 

Materi Kenashiran ini mencakup penguatan loyalitas terhadap visi yayasan, pemahaman terhadap khittah perjuangan Majlis Pusat Nashir, serta kode etik seorang Murabbi dalam berinteraksi dengan santri dan masyarakat. Beliau juga memaparkan bagaimana integrasi antara ilmu pengetahuan umum dan nilai-nilai keislaman harus menjadi ciri khas yang melekat pada setiap gerak-gerik pendidik di lingkungan Cendekia Muslim.

Aula Terbuka yang menjadi saksi bisu penyampaian materi ini tampak dipenuhi oleh seluruh elemen yayasan. Jajaran guru menyimak dengan saksama untuk mempertajam ruh pengabdian mereka di kelas. Staf LP2 dan Sekretariat mencatat poin-poin penting mengenai integritas kerja, sementara para santri Sekolah Menengah Pertama (SMP) Akhlak Cendekia Muslim mendapatkan pelajaran berharga mengenai kepemimpinan dan jati diri seorang muslim yang tangguh.

Pelibatan santri SMP dalam materi Kenashiran ini merupakan langkah strategis dari Yayasan Pendidikan Cendekia Muslim. Hal ini bertujuan agar para santri sejak dini sudah memiliki sense of belonging (rasa memiliki) dan kebanggaan terhadap institusi tempat mereka menimba ilmu. Dengan mendengar langsung dari tokoh sekaliber Ustadz Adhan Chaniago, para santri diharapkan mampu menyerap semangat juang dan disiplin tinggi yang menjadi prasyarat seorang cendekia.

Pelaksanaan sesi materi yang intensif pada hari Sabtu ini menunjukkan betapa Yayasan Pendidikan Cendekia Muslim sangat menghargai waktu untuk pengembangan kualitas SDM. Sijunjung menjadi pusat pergerakan intelektual di mana hari Sabtu dioptimalkan untuk pengisian "ruhiyah" dan "fikriyah" bagi para pejuang pendidikan.

Namun, di balik kepadatan agenda Daurah bagi jenjang menengah dan dewasa, Yayasan Pendidikan Cendekia Muslim tetap konsisten menjalankan manajemen yang humanis dan berbasis pada kebutuhan psikologis perkembangan anak. Hal ini terlihat dari suasana di unit Kelompok Bermain (KB) Akhlak Cendekia Muslim yang tetap tenang tanpa aktivitas sekolah.

Berdasarkan kebijakan strategis yayasan yang telah lama diberlakukan, seluruh santri jenjang Kelompok Bermain (KB) diberikan jadwal libur pada setiap hari Sabtu. Kebijakan ini merupakan bentuk perlindungan yayasan terhadap hak bermain dan waktu istirahat anak usia dini (2-4 tahun). Yayasan meyakini bahwa di usia emas tersebut, anak-anak membutuhkan waktu yang lebih luas untuk berinteraksi dengan orang tua di rumah guna memperkuat ikatan emosional. Dengan memberikan libur Sabtu bagi santri KB, stamina dan keceriaan mereka tetap terjaga, sehingga mereka bisa memulai pekan dengan kondisi yang prima pada hari Senin mendatang.

Sesi pertama Daurah Asasiyah Li Al-Murabbi ini diakhiri dengan tanya jawab yang dinamis. Banyak peserta yang menggali lebih dalam mengenai bagaimana mengimplementasikan nilai Kenashiran dalam tantangan pendidikan modern di Kabupaten Sijunjung.

Yayasan Pendidikan Cendekia Muslim berharap, melalui materi yang disampaikan oleh Ustadz Dr. (H.C) Adhan Chaniago ini, seluruh guru dan pegawai memiliki persepsi yang sama dalam berjuang. Sinergi antara pemahaman ideologis yang kuat dan kompetensi profesional yang mumpuni diharapkan mampu menjadikan SMP Akhlak Cendekia Muslim sebagai mercusuar pendidikan di Sumatera Barat.

Dengan selesainya materi pertama ini, Daurah Asasiyah Li Al-Murabbi masih akan berlanjut dengan rangkaian materi penguatan lainnya. Namun, fondasi Kenashiran yang telah diletakkan hari ini di Sijunjung dipastikan akan menjadi kompas bagi setiap langkah perjuangan Yayasan Pendidikan Cendekia Muslim ke depan.