Petualangan Rasa di Ranah Lansek Manih: Santri TK A dan KB Akhlak Cendekia Muslim Sijunjung Eksplorasi Panca Indra Melalui Uji Pengecap

Petualangan Rasa di Ranah Lansek Manih: Santri TK A dan KB Akhlak Cendekia Muslim Sijunjung Eksplorasi Panca Indra Melalui Uji Pengecap

SIJUNJUNG, Suasana ceria dan penuh rasa ingin tahu menyelimuti kompleks pendidikan Akhlak Cendekia Muslim di Kabupaten Sijunjung pada Jumat pagi, 7 Agustus 2026. Hari ini, para santri cilik dari jenjang Taman Kanak-Kanak (TK) A dan Kelompok Bermain (KB) tidak hanya belajar di dalam kelas dengan buku gambar, melainkan terlibat dalam sebuah eksperimen sensorik yang seru dan edukatif. Mereka sedang mempelajari keajaiban panca indra manusia, dengan fokus khusus pada indra pengecap atau lidah.

Kegiatan ini merupakan bagian dari kurikulum tematik "Diriku dan Karunia Allah" yang disusun oleh Yayasan Pendidikan Cendekia Muslim. Melalui metode experiential learning atau belajar melalui pengalaman langsung, para santri diajak untuk mengenali dan membedakan empat rasa dasar yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari: pahit, asin, manis, dan asam.

Sejak pukul 08.30 WIB, ustadzah pendamping telah menyiapkan "Meja Petualangan Rasa" di aula terbuka sekolah. Di atas meja tersebut tersedia empat bahan utama sebagai media praktik: bubuk kopi untuk rasa pahit, garam untuk rasa asin, gula pasir untuk rasa manis, dan potongan lemon segar untuk rasa asam.

Satu per satu santri dipanggil untuk mencicipi sedikit dari setiap bahan tersebut. Reaksi yang muncul pun sangat beragam dan mengundang tawa gemas dari para pendidik. Ada santri yang langsung menutup mata rapat-rapat saat merasakan pahitnya kopi, ada yang menjulurkan lidah berkali-kali saat mencicipi asamnya lemon, dan tentu saja, wajah-wajah sumringah penuh kemenangan muncul saat butiran gula manis menyentuh lidah mereka.

Ustadzah pendamping menjelaskan bahwa pengenalan panca indra ini mencakup lima aspek, yaitu mata (penglihatan), telinga (pendengaran), hidung (penciuman), kulit (peraba), dan lidah (pengecap). Namun, hari Jumat ini dikhususkan untuk mengeksplorasi lidah agar santri memahami fungsi organ tubuh yang telah dianugerahkan oleh Allah SWT.

 

"Kami ingin anak-anak memahami bahwa setiap rasa memiliki ceritanya sendiri. Melalui praktik ini, mereka belajar kosa kata baru tentang rasa sekaligus belajar bersyukur. Kami ajarkan bahwa semua rasa ini adalah ciptaan Allah yang bermanfaat bagi manusia," ujar salah satu ustadzah di sela-sela membimbing santri KB.

Yayasan Pendidikan Cendekia Muslim selaku lembaga pengelola terus berinovasi dalam menghadirkan sarana pendidikan yang representatif di Kabupaten Sijunjung. Pihak yayasan menyadari bahwa pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah masa emas (golden age) di mana stimulasi panca indra sangat krusial bagi perkembangan sinapsis otak anak.

Ketua Yayasan Pendidikan Cendekia Muslim menekankan bahwa fasilitas di Jalan Cendekia Muslim, Sijunjung, dirancang untuk mendukung kegiatan eksploratif seperti ini.

"Kami menyediakan lingkungan yang aman dan nyaman agar para ustadzah bisa berkreasi dengan media pembelajaran yang nyata. Hari ini mereka belajar tentang lidah, besok mungkin mereka akan mengeksplorasi tekstur melalui indra peraba. Inilah komitmen kami untuk memberikan pendidikan holistik yang menyentuh aspek kognitif, afektif, dan sensorik santri," tegas Ketua Yayasan.

Dukungan dari perangkat Nagari dan Bapak Jorong Pale dalam menjaga kondusivitas lingkungan sekitar sekolah juga turut berperan besar. Dengan suasana Sijunjung yang asri dan tenang, para santri dapat berkonsentrasi penuh dalam mengikuti setiap tahapan pembelajaran "Petualangan Rasa" ini tanpa gangguan kebisingan lalu lintas.

Kegiatan yang berlangsung pada Jumat, 7 Agustus 2026 ini juga menjadi penanda berakhirnya rangkaian aktivitas mingguan yang padat. Di lingkungan Yayasan Pendidikan Cendekia Muslim, hari Jumat selalu diisi dengan kegiatan yang lebih santai namun sarat makna, sebagai bentuk apresiasi atas usaha santri selama sepekan.

Namun, ada kebijakan manajemen yang sangat spesifik yang diterapkan oleh yayasan demi menjaga keseimbangan mental dan fisik santri usia dini. Meskipun santri TK A tetap memiliki beberapa agenda ringan, para santri Kelompok Bermain (KB) Akhlak Cendekia Muslim sudah bersiap untuk memasuki masa istirahat total.

Sesuai dengan SOP manajemen yayasan, santri jenjang KB diberikan jadwal libur pada setiap hari Sabtu. Kebijakan ini diambil berdasarkan pertimbangan bahwa anak usia 2-4 tahun membutuhkan waktu istirahat yang lebih panjang serta kesempatan untuk melakukan bonding atau penguatan ikatan emosional dengan orang tua di rumah setelah beraktivitas selama lima hari.

"Dengan memberikan libur Sabtu bagi santri KB, kami memastikan mereka tidak mengalami kelelahan yang berlebihan. Kami ingin mereka rindu sekolah, bukan bosan karena sekolah. Stamina yang terjaga membuat mereka selalu antusias saat kembali ke sekolah di hari Senin nanti," tambah perwakilan manajemen yayasan.

Kegiatan belajar panca indra pengecap ini diakhiri dengan sesi mencuci mulut dengan air putih dan doa bersama sebagai bentuk syukur. Para santri pulang dengan membawa cerita baru untuk orang tua mereka di rumah tentang bagaimana rasanya "kopi yang pahit" atau "lemon yang sangat asam".

Yayasan Pendidikan Cendekia Muslim berharap, melalui langkah-langkah kecil namun penuh makna seperti pembelajaran hari ini, akan lahir generasi cendekia dari Sijunjung yang memiliki kepekaan tinggi, kecerdasan sensorik yang baik, dan hati yang senantiasa bersyukur atas setiap karunia fisik yang mereka miliki. Setiap rasa yang mereka kecap hari ini adalah pelajaran berharga tentang keragaman hidup yang diciptakan oleh Sang Maha Pencipta.