Wujud Bakti Lewat Seni: Santri TK B Al-Quds Cendekia Muslim Berkreasi dengan Kolase Daun Kering untuk Ayah dan Ibu

Wujud Bakti Lewat Seni: Santri TK B Al-Quds Cendekia Muslim Berkreasi dengan Kolase Daun Kering untuk Ayah dan Ibu

Sijunjung, Suasana khidmat namun penuh keceriaan menyelimuti ruang kelas TK B Al-Quds di lingkungan sekolah Akhlak Cendekia Muslim pada Jumat pagi, 31 Juli 2026. Puluhan santri kecil tampak asyik berkonsentrasi di meja masing-masing, bukan untuk menulis angka atau huruf, melainkan untuk merangkai kepingan-kepingan alam menjadi sebuah karya seni bermakna. Hari itu, mereka mengikuti kegiatan kreativitas menempel daun kering pada gambar figur ayah dan ibu yang telah disiapkan oleh ustadzah pendamping kelas.

Kegiatan ini merupakan bagian dari kurikulum pengembangan karakter dan motorik halus yang dicanangkan oleh Yayasan Pendidikan Cendekia Muslim. Dengan memanfaatkan bahan-bahan alam yang ada di sekitar lingkungan sekolah, para santri diajak untuk mengeksplorasi tekstur, warna, dan bentuk, sekaligus menanamkan rasa cinta yang mendalam kepada kedua orang tua.

Sejak pagi hari, ustadzah pendamping kelas TK B Al-Quds telah menyiapkan lembaran kertas yang memuat cetakan gambar siluet ayah dan ibu. Di atas meja, tersedia tumpukan daun-daun kering berbagai jenis yang telah dikumpulkan sebelumnya. Tugas para santri adalah menyusun dan menempelkan daun-daun tersebut hingga menutupi pola gambar dengan rapi.

Secara pedagogis, aktivitas menempel atau kolase ini memiliki dampak signifikan bagi perkembangan anak usia dini. Ustadzah pendamping menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk melatih koordinasi mata dan tangan (motorik halus), yang nantinya akan sangat berguna saat anak mulai belajar menulis secara intensif. Selain itu, anak-anak dilatih untuk bersabar dan teliti dalam mengikuti alur garis yang sudah dicetak.

"Kami ingin anak-anak tidak hanya terpaku pada gadget atau bahan pabrikan. Dengan menggunakan daun kering, mereka belajar menghargai alam. Mereka melihat bahwa sesuatu yang sudah gugur dan kering pun bisa diolah menjadi karya yang indah jika disentuh dengan kreativitas dan kasih sayang," ujar salah satu ustadzah di sela-sela membimbing santri.

Lebih dari sekadar aktivitas seni, pemilihan objek gambar "Ayah dan Ibu" memiliki misi ideologis yang kuat di bawah visi Yayasan Pendidikan Cendekia Muslim. Yayasan berkomitmen untuk mencetak generasi yang memiliki akhlakul karimah, di mana berbakti kepada orang tua (birrul walidain) adalah fondasi utamanya.

Selama proses menempel, para ustadzah tidak henti-hentinya menyisipkan cerita-cerita pendek tentang pengorbanan orang tua. Hal ini membuat kegiatan menempel daun kering menjadi momen reflektif bagi para santri. Beberapa santri bahkan dengan polosnya bergumam, "Ini untuk hadiah Bunda nanti kalau jemput," atau "Aku mau kasih Ayah karena Ayah sudah bekerja."

Yayasan Pendidikan Cendekia Muslim memandang bahwa mengaitkan tugas sekolah dengan emosi positif terhadap keluarga akan membuat materi pelajaran lebih mudah diingat dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Inilah yang membedakan pendekatan pendidikan di Akhlak Cendekia Muslim, di mana setiap aktivitas selalu memiliki "ruh" nilai-nilai Islami.

Pihak Yayasan Pendidikan Cendekia Muslim terus memberikan dukungan penuh terhadap inovasi pembelajaran seperti ini. Fasilitas yang memadai serta pelatihan bagi para ustadzah secara berkala memastikan bahwa setiap kelas, termasuk TK B Al-Quds, mampu menghadirkan suasana belajar yang eksploratif.

Perwakilan yayasan menyatakan bahwa integrasi antara pendidikan agama, seni, dan kelestarian lingkungan adalah kunci menghadapi tantangan zaman. "Kami ingin santri Cendekia Muslim memiliki kepekaan sosial dan spiritual. Melalui media sederhana seperti daun kering, kita sedang membangun jembatan emosional antara anak, sekolah, dan rumah," ungkapnya dalam laporan mingguan yayasan.

Kegiatan pada Jumat, 31 Juli 2026 ini juga menjadi penanda berakhirnya rangkaian aktivitas sekolah dalam sepekan. Suasana di lingkungan sekolah Akhlak Cendekia Muslim memang selalu mencapai puncaknya pada hari Jumat. Bagi santri TK B Al-Quds, karya kolase daun kering ini menjadi "oleh-oleh" spesial yang dibawa pulang untuk menutup pekan dengan prestasi.

Sementara itu, suasana serupa namun sedikit lebih santai terlihat di area Kelompok Bermain (KB) Akhlak Cendekia Muslim. Berbeda dengan kakak kelasnya di tingkat TK atau SD, para santri KB memiliki jadwal istimewa di mana mereka akan menikmati masa libur pada hari Sabtu. Oleh karena itu, hari Jumat menjadi momen krusial bagi para pendidik KB untuk memberikan kesan mendalam kepada para santri sebelum mereka memasuki waktu libur keluarga.

Meskipun santri KB libur pada hari Sabtu, semangat "Jumat Berkah" tetap dirasakan secara merata di seluruh unit pendidikan di bawah Yayasan Pendidikan Cendekia Muslim. Tradisi bersalaman dan saling mendoakan sebelum pulang menjadi penutup yang manis bagi seluruh rangkaian kegiatan hari itu.

Dengan selesainya karya kolase daun kering tersebut, para santri TK B Al-Quds pulang dengan membawa lebih dari sekadar kertas bertempel daun. Mereka membawa pulang rasa bangga, rasa cinta kepada orang tua, dan kesadaran akan indahnya ciptaan Allah SWT yang ada di sekitar mereka. Yayasan Pendidikan Cendekia Muslim berharap, benih-benih kebaikan yang ditanam melalui aktivitas sederhana ini akan tumbuh menjadi karakter yang kokoh di masa depan.