Nabi Idris AS: Pelopor Ilmu Pengetahuan dan Pembawa Dakwah Tauhid di Masa Awal Peradaban
Nabi Idris AS dikenal sebagai salah satu nabi awal yang diutus Allah SWT untuk membimbing manusia menuju jalan kebenaran. Beliau hadir pada masa ketika umat manusia mulai menyimpang dari ajaran tauhid, dan Allah mengangkatnya sebagai nabi untuk menyeru mereka agar kembali menyembah-Nya semata serta meninggalkan penyembahan berhala.
Sebagai keturunan keenam dari Nabi Adam AS, Nabi Idris AS merupakan salah satu nabi yang hidup sebelum era Nabi Nuh AS, ketika jumlah manusia masih sedikit namun mulai terpengaruh oleh perilaku maksiat. Sosoknya dikenal memiliki kepribadian yang cerdas, jujur, sabar, serta tekun dalam beribadah. Dalam Al-Qur’an, Allah memuji beliau sebagai nabi yang memiliki derajat yang tinggi karena ketakwaan dan keteguhan hatinya.
Dalam perjalanan dakwahnya, Nabi Idris AS hidup dan berdakwah di wilayah Babilonia (Irak). Namun ketika masyarakat di daerah tersebut semakin jauh dari kebenaran, beliau kemudian berpindah ke Mesir. Di negeri baru itu, beliau melanjutkan dakwahnya sekaligus mengajarkan berbagai pengetahuan penting kepada umatnya.
Tidak hanya berdakwah tentang ketauhidan, Nabi Idris AS juga memperkenalkan berbagai ilmu pengetahuan yang menjadi tonggak perkembangan manusia di masa awal peradaban. Beliau mengajarkan ilmu perbintangan, membaca, menulis, berhitung, hingga keterampilan menjahit. Karena kontribusinya yang besar dalam menghadirkan ilmu dan teknologi sederhana pada zamannya, banyak ulama menyebut beliau sebagai pelopor kemajuan ilmu pengetahuan.
Dakwah Nabi Idris AS pun berlangsung dengan penuh kesabaran dan keteladanan. Beliau mengajarkan kebenaran dengan cara yang lembut namun tegas, memberikan contoh hidup disiplin, serta memperkenalkan ilmu-ilmu yang bermanfaat sebagai bekal keseharian umatnya. Menurut sejumlah riwayat, beliau mendapatkan kedudukan istimewa hingga diangkat oleh Allah ke tempat yang tinggi, sebagaimana disebutkan dalam Surah Maryam ayat 57.
Keberadaan Nabi Idris AS menjadi bukti bahwa dakwah dan ilmu pengetahuan merupakan dua hal yang saling melengkapi. Melalui ajaran dan keteladanan beliau, generasi awal manusia belajar tentang tauhid sekaligus menerima dasar-dasar ilmu yang kelak menjadi fondasi peradaban dunia.

