Dari Nagari Untuk Kemajuan Umat: Yayasan Pendidikan Cendekia Muslim Ajak Masyarakat Meneladani Perjuangan Inyiak Canduang Dalam Membangun Pendidikan Islam
Sijunjung, Kamis, 5 November 2026. Sejarah pendidikan Islam di Minangkabau menyimpan banyak kisah perjuangan ulama yang memberikan perhatian besar terhadap ilmu dan pembinaan umat. Salah satu tokoh penting dalam perjalanan tersebut adalah Syekh Sulaiman Ar-Rasuli, ulama asal Candung, Agam, Sumatera Barat, yang lebih dikenal dengan sapaan Inyiak Canduang. Perjalanan hidup dan pengabdiannya menunjukkan bahwa upaya memajukan pendidikan dapat dimulai dari lingkungan tempat seseorang tumbuh dan mengabdi.
Inyiak Canduang dikenal sebagai ulama yang menuntut ilmu sejak dari kampung halamannya hingga melanjutkan perjalanan ke Makkah. Setelah kembali ke tanah air, ilmu yang diperolehnya tidak hanya menjadi bekal pribadi, tetapi juga dibagikan kepada masyarakat melalui kegiatan mengajar dan pengembangan pendidikan Islam di kampungnya. Langkah tersebut menjadi bagian penting dari tumbuhnya lembaga pendidikan yang kemudian dikenal sebagai Madrasah Tarbiyah Islamiyah Candung.
Pengembangan pendidikan dengan sistem kelas menjadi salah satu bagian dari perjalanan pendidikan yang dikaitkan dengan perjuangan Inyiak Canduang. Melalui lembaga pendidikan tersebut, pembelajaran agama diselenggarakan secara lebih teratur. Perkembangan madrasah kemudian tidak berhenti di satu tempat. Madrasah-madrasah Tarbiyah tumbuh di berbagai daerah, memperluas kesempatan masyarakat untuk memperoleh pendidikan Islam.
Selain mengembangkan pendidikan di Candung, Inyiak Canduang juga turut mendirikan Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti). Peran tersebut memperlihatkan bahwa perhatian terhadap pendidikan tidak hanya diwujudkan melalui kegiatan mengajar, tetapi juga melalui upaya membangun gerakan dan wadah yang dapat mendukung penyebaran pendidikan Islam. Kisah ini menjadi pengingat bahwa kemajuan pendidikan memerlukan gagasan, pengabdian, dan dukungan masyarakat.
Yayasan Pendidikan Cendekia Muslim mengangkat kisah Inyiak Canduang sebagai bahan refleksi tentang pentingnya membangun pendidikan dari lingkungan sendiri. Perjalanan tokoh tersebut mengajarkan bahwa nagari bukan sekadar tempat tinggal, melainkan ruang tumbuhnya ilmu, nilai, dan cita-cita bersama. Ketika masyarakat memberi perhatian kepada pendidikan dan para pendidik menjalankan pengabdian dengan ikhlas, perubahan dapat dimulai dari lingkungan yang sederhana.
Perjalanan Inyiak Canduang dalam menuntut ilmu dimulai dari kampung halamannya di Candung, Agam, Sumatera Barat, kemudian berlanjut hingga ke Makkah. Perjalanan tersebut menggambarkan kesungguhan seorang pencari ilmu untuk memperluas pengetahuan dan memperdalam pemahaman agama. Dalam tradisi pendidikan, proses belajar tidak hanya berkaitan dengan tempat seseorang menuntut ilmu, tetapi juga dengan bagaimana pengetahuan itu dimanfaatkan setelah kembali ke tengah masyarakat.
Ilmu yang diperoleh seseorang akan memberikan manfaat lebih luas ketika dibagikan. Hal tersebut tercermin dari langkah Inyiak Canduang setelah kembali ke kampungnya. Ia mengajar dan mengembangkan pendidikan Islam di lingkungan tempat ia berasal. Pengabdian tersebut memperlihatkan bahwa ilmu tidak semestinya berhenti pada pencapaian pribadi. Ilmu dapat menjadi jalan untuk membantu masyarakat memperoleh pemahaman, membangun kehidupan yang lebih baik, dan menyiapkan generasi penerus.
Kisah ini juga memberi pesan bahwa pendidikan membutuhkan sosok pendidik yang bersedia hadir di tengah masyarakat. Seorang guru bukan hanya menyampaikan pengetahuan, tetapi turut membangun kebiasaan belajar, membimbing akhlak, serta menumbuhkan kecintaan terhadap ilmu. Keikhlasan dalam mengajar menjadi nilai penting karena pendidikan merupakan proses panjang yang hasilnya tidak selalu terlihat dalam waktu singkat.
Perjalanan menuntut ilmu hingga ke tempat yang jauh juga dapat menjadi pengingat bahwa wawasan perlu terus dikembangkan. Namun, luasnya pengalaman dan pengetahuan akan semakin bermakna apabila dapat diterapkan untuk menjawab kebutuhan lingkungan sendiri. Dengan demikian, belajar dan mengabdi merupakan dua hal yang saling melengkapi.
Bagi generasi masa kini, kisah tersebut dapat menjadi dorongan untuk memandang pendidikan sebagai tanggung jawab bersama. Kesempatan belajar perlu dimanfaatkan sebaik-baiknya, sementara ilmu dan keterampilan yang diperoleh dapat diarahkan untuk memberi manfaat bagi keluarga, masyarakat, dan daerah.
Sepulang dari Makkah, Inyiak Canduang mengajar dan mengembangkan pendidikan Islam di kampungnya. Salah satu bagian penting dari langkah tersebut adalah pengembangan pembelajaran dengan sistem kelas yang kemudian dikenal melalui Madrasah Tarbiyah Islamiyah Candung. Sistem kelas menghadirkan pengaturan pembelajaran yang lebih terstruktur sehingga kegiatan pendidikan dapat berlangsung secara terarah.
Keberadaan madrasah memiliki arti penting bagi masyarakat. Madrasah menjadi tempat berlangsungnya proses belajar, pewarisan pengetahuan agama, dan pembinaan generasi. Di dalamnya, peserta didik memperoleh kesempatan untuk mempelajari ilmu serta membangun kebiasaan yang mendukung kehidupan beragama dan bermasyarakat. Lembaga pendidikan juga dapat menjadi ruang pertemuan antara guru, keluarga, dan masyarakat dalam memperhatikan perkembangan generasi muda.
Perkembangan Madrasah Tarbiyah Islamiyah Candung memperlihatkan bagaimana sebuah ikhtiar pendidikan di tingkat lokal dapat menjadi bagian dari perjalanan yang lebih luas. Ketika gagasan pendidikan diterima dan memperoleh dukungan, nilai serta model pembelajaran dapat menginspirasi tumbuhnya lembaga serupa di tempat lain. Dalam narasi sejarah Inyiak Canduang, madrasah-madrasah Tarbiyah kemudian tumbuh di berbagai daerah.
Perkembangan tersebut memberi pelajaran bahwa pendidikan tidak harus selalu dimulai melalui lembaga yang besar. Sebuah upaya yang dirintis dari kampung dapat berkembang ketika memiliki tujuan yang jelas, pendidik yang bersungguh-sungguh, dan masyarakat yang memahami pentingnya ilmu. Dukungan masyarakat dapat hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari kepercayaan kepada lembaga pendidikan, perhatian terhadap proses belajar, hingga keterlibatan dalam menjaga keberlangsungan pendidikan.
Madrasah juga mengingatkan bahwa pendidikan perlu dekat dengan kehidupan masyarakat. Lembaga pendidikan hadir bukan hanya untuk menyampaikan pelajaran, tetapi juga untuk membantu membangun nilai dan karakter. Pendidikan yang tumbuh dari kebutuhan masyarakat akan lebih mudah memperoleh tempat dalam kehidupan nagari karena masyarakat dapat melihat manfaatnya secara langsung.
Selain mengajar dan mengembangkan madrasah, Inyiak Canduang turut mendirikan Persatuan Tarbiyah Islamiyah atau Perti. Keterlibatan dalam pendirian organisasi tersebut menunjukkan adanya perhatian terhadap pentingnya wadah yang mendukung gerakan pendidikan Islam. Pendidikan membutuhkan kegiatan belajar di ruang kelas, tetapi juga memerlukan pengorganisasian, komunikasi, dan usaha bersama agar pengembangannya dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas.
Keberadaan organisasi pendidikan dapat menjadi sarana untuk menghubungkan berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap ilmu dan pembinaan umat. Melalui wadah bersama, gagasan pendidikan dapat dibicarakan, pengalaman dapat dibagikan, dan perhatian terhadap keberlangsungan lembaga dapat diperkuat. Dalam konteks kisah Inyiak Canduang, Perti menjadi bagian dari perjalanan yang berhubungan dengan tumbuhnya madrasah-madrasah Tarbiyah di berbagai daerah.
Perluasan pendidikan tidak dapat dilepaskan dari dukungan masyarakat. Sebuah lembaga membutuhkan kepercayaan, kepedulian, dan partisipasi lingkungan sekitarnya. Orang tua mempercayakan pendidikan anak, pendidik melaksanakan tanggung jawab pembelajaran, sedangkan masyarakat memberikan dukungan agar proses pendidikan dapat berjalan. Hubungan tersebut menjadi salah satu unsur penting dalam membangun ekosistem pendidikan.
Kisah pendirian Perti juga mengingatkan bahwa perubahan yang lebih luas sering kali berawal dari kerja bersama. Gagasan seorang tokoh dapat menjadi pemantik, tetapi keberlanjutan gerakan membutuhkan banyak pihak. Setiap orang dapat mengambil peran sesuai kemampuan, baik melalui pengajaran, pengelolaan lembaga, dukungan moral, maupun kepedulian terhadap kebutuhan pendidikan di lingkungannya.
Nilai tersebut tetap relevan bagi masyarakat saat ini. Kemajuan pendidikan di nagari membutuhkan ruang komunikasi dan kerja bersama antara keluarga, lembaga pendidikan, tokoh masyarakat, dan berbagai unsur lainnya. Tujuannya bukan sekadar memperbanyak lembaga, tetapi memastikan bahwa anak-anak dan generasi muda memperoleh kesempatan belajar yang bermakna.
Kisah Inyiak Canduang mengandung pesan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari nagari kecil. Candung menjadi tempat pengabdian dan pengembangan pendidikan Islam yang kemudian dikenal lebih luas melalui Madrasah Tarbiyah Islamiyah Candung. Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa lingkungan lokal memiliki potensi besar untuk melahirkan gagasan dan gerakan yang bermanfaat bagi masyarakat.
Nagari memiliki kekuatan berupa hubungan sosial, nilai kebersamaan, tradisi, serta kedekatan antarwarga. Potensi tersebut dapat menjadi modal untuk mendukung pendidikan. Ketika masyarakat memiliki kepedulian terhadap masa depan generasi, berbagai pihak dapat mengambil peran untuk menyediakan lingkungan belajar yang baik. Pendidikan bukan hanya urusan lembaga, melainkan kepentingan bersama yang hasilnya akan dirasakan oleh masyarakat.
Salah satu pelajaran penting dari kisah tersebut adalah peran guru. Guru yang ikhlas dan memiliki kepedulian terhadap perkembangan anak dapat menjadi penggerak perubahan. Pengabdian seorang pendidik tidak hanya terlihat dari materi yang disampaikan, tetapi juga dari kesediaan membimbing, memberi teladan, dan membantu peserta didik mengembangkan potensi. Karena itu, penghargaan terhadap pendidik dan perhatian terhadap kualitas pembelajaran perlu menjadi bagian dari upaya memajukan pendidikan.
Masyarakat juga memiliki peran yang tidak kalah penting. Dukungan dapat diberikan dengan memperhatikan kebutuhan lembaga pendidikan, membangun komunikasi yang baik dengan pendidik, menciptakan suasana yang mendukung anak belajar, serta menjaga nilai-nilai baik yang hidup di lingkungan nagari. Dukungan tersebut tidak harus selalu berbentuk materi. Kepedulian, partisipasi, dan kepercayaan juga merupakan modal penting.
Selain itu, pendidikan di nagari perlu terus menyesuaikan diri dengan kebutuhan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai yang menjadi dasarnya. Anak-anak perlu memperoleh ilmu pengetahuan, keterampilan, dan karakter yang dapat membantu mereka menghadapi tantangan kehidupan. Pada saat yang sama, pendidikan juga perlu mengenalkan akar budaya, nilai agama, dan tanggung jawab terhadap lingkungan tempat mereka tumbuh.
Meneladani Inyiak Canduang bukan berarti hanya mengenang nama dan perjalanan sejarahnya. Keteladanan tersebut dapat diwujudkan melalui tindakan nyata: belajar dengan sungguh-sungguh, mengajar dengan ikhlas, mendukung lembaga pendidikan, dan membangun kepedulian terhadap masa depan generasi di nagari sendiri.
Sebagai lembaga yang bergerak di bidang pendidikan, Yayasan Pendidikan Cendekia Muslim memandang sejarah perjuangan ulama dan pendidik sebagai sumber inspirasi untuk memperkuat perhatian terhadap ilmu. Kisah Inyiak Canduang mengingatkan bahwa pendidikan perlu dibangun dengan tujuan yang jelas, ketulusan dalam pengabdian, dan dukungan dari masyarakat.
Nilai tersebut sejalan dengan pentingnya menghadirkan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada pengetahuan, tetapi juga pembentukan akhlak dan kepedulian sosial. Generasi muda perlu dibimbing agar memiliki semangat belajar, menghormati ilmu, menghargai pendidik, serta memahami tanggung jawabnya terhadap lingkungan. Pendidikan yang baik diharapkan melahirkan pribadi yang mampu menggunakan pengetahuan untuk kebaikan.
Yayasan Pendidikan Cendekia Muslim juga dapat memaknai kisah ini sebagai pengingat bahwa lembaga pendidikan tumbuh bersama masyarakat. Keberadaan lembaga akan semakin bermakna ketika proses pendidikan mendapat perhatian dan dukungan dari keluarga serta lingkungan. Komunikasi yang baik antara lembaga dan masyarakat membantu membangun pemahaman bahwa pendidikan merupakan investasi jangka panjang bagi masa depan generasi.
Menumbuhkan budaya ilmu dapat dimulai dari lingkungan terdekat. Keluarga dapat membiasakan anak membaca dan berdiskusi, pendidik dapat menghadirkan pembelajaran yang bermakna, sedangkan masyarakat dapat memberikan ruang bagi kegiatan pendidikan dan literasi. Kebiasaan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar membangun lingkungan yang menghargai pengetahuan dan proses belajar.
Melalui refleksi sejarah Inyiak Canduang, Yayasan Pendidikan Cendekia Muslim mengajak masyarakat untuk melihat potensi nagari sendiri. Setiap daerah memiliki anak-anak yang perlu memperoleh kesempatan belajar, pendidik yang perlu didukung, dan lingkungan yang dapat dikembangkan menjadi ruang tumbuhnya ilmu. Perhatian terhadap hal-hal tersebut merupakan langkah nyata dalam menjaga keberlanjutan pendidikan.
Memajukan pendidikan di nagari dapat dimulai dengan mengenali kebutuhan yang ada. Masyarakat dapat memperhatikan akses belajar anak, ketersediaan bahan bacaan, dukungan terhadap pendidik, serta lingkungan yang aman dan nyaman untuk kegiatan pendidikan. Pengenalan kebutuhan menjadi langkah awal agar upaya yang dilakukan benar-benar sesuai dengan keadaan setempat.
Keluarga dapat mengambil peran melalui pendampingan belajar di rumah. Orang tua tidak harus menguasai semua mata pelajaran untuk mendukung pendidikan anak. Menyediakan waktu untuk mendengarkan cerita anak, mengingatkan jadwal belajar, membangun kebiasaan membaca, dan memberikan dorongan ketika anak menghadapi kesulitan merupakan bentuk perhatian yang berarti.
Lembaga pendidikan dapat terus memperhatikan mutu proses pembelajaran dan pembinaan karakter. Pendidik perlu memperoleh ruang untuk mengembangkan kemampuan, sementara peserta didik membutuhkan pembelajaran yang mendorong rasa ingin tahu dan tanggung jawab. Lingkungan belajar yang menghargai proses akan membantu anak merasa bahwa ilmu merupakan sesuatu yang penting dan menyenangkan untuk dipelajari.
Masyarakat dapat mendukung melalui kegiatan yang memperluas kesempatan belajar, seperti menghidupkan ruang baca, mendukung kegiatan literasi, berbagi pengetahuan, atau membantu anak-anak memperoleh sumber belajar. Bentuk dukungan dapat disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan nagari. Hal yang utama adalah adanya kepedulian dan kesediaan untuk mengambil bagian.
Tokoh masyarakat dan unsur pemerintahan nagari juga dapat berperan dalam mendorong perhatian terhadap pendidikan. Komunikasi mengenai kebutuhan lembaga, dukungan terhadap kegiatan pembelajaran, serta perhatian pada anak-anak yang memerlukan bantuan dapat menjadi bagian dari usaha bersama. Ketika pendidikan menjadi perhatian bersama, peluang untuk menghadirkan lingkungan belajar yang lebih baik akan semakin terbuka.
Langkah-langkah tersebut tidak harus dilakukan sekaligus. Perubahan dapat dimulai dari satu kebiasaan baik, satu kegiatan belajar, atau satu bentuk dukungan yang dilakukan secara terarah. Seperti pesan dari kisah Inyiak Canduang, sebuah ikhtiar yang berawal dari lingkungan kecil dapat memberi pengaruh lebih luas apabila dijalankan dengan kesungguhan dan memperoleh dukungan masyarakat.
Perjalanan Syekh Sulaiman Ar-Rasuli atau Inyiak Canduang memberikan pelajaran berharga tentang arti pengabdian dalam pendidikan. Berawal dari Candung, Agam, ia menuntut ilmu hingga ke Makkah, kemudian kembali untuk mengajar dan mengembangkan pendidikan Islam di kampung halamannya. Pengembangan Madrasah Tarbiyah Islamiyah Candung serta keterlibatannya dalam pendirian Perti menjadi bagian dari kisah tumbuhnya pendidikan Islam yang kemudian menjangkau berbagai daerah.
Kisah tersebut memperlihatkan bahwa kemajuan pendidikan tidak selalu dimulai dari tempat yang besar atau fasilitas yang lengkap. Perubahan dapat berawal dari kepedulian seorang pendidik, keberanian mengembangkan gagasan, dan dukungan masyarakat terhadap ilmu. Ketika ketiganya berjalan bersama, nagari dapat menjadi tempat lahirnya generasi yang memiliki pengetahuan dan akhlak.
Yayasan Pendidikan Cendekia Muslim mengajak seluruh unsur masyarakat untuk menjadikan sejarah ini sebagai inspirasi dalam memajukan pendidikan di lingkungan masing-masing. Setiap pihak dapat mengambil peran, mulai dari keluarga yang mendampingi anak belajar, pendidik yang mengajar dengan penuh tanggung jawab, lembaga yang menjaga mutu pendidikan, hingga masyarakat yang memberikan dukungan nyata.
Memajukan pendidikan di nagari bukan hanya tentang membangun gedung atau menambah sarana. Lebih dari itu, upaya tersebut berarti menumbuhkan budaya ilmu, menghargai pendidik, memperluas kesempatan belajar, dan memastikan generasi muda memperoleh bimbingan yang baik. Langkah sederhana yang dilakukan bersama dapat menjadi fondasi bagi perubahan yang lebih besar.
Pada akhirnya, pertanyaan tentang apa yang dapat dilakukan untuk memajukan pendidikan di nagari sendiri perlu dijawab melalui tindakan. Mulailah dari lingkungan terdekat, dukung kegiatan belajar, hidupkan kepedulian terhadap ilmu, dan berikan ruang bagi anak-anak untuk berkembang. Meneladani Inyiak Canduang berarti meneruskan semangat pengabdian melalui kerja nyata, agar dari nagari tumbuh generasi berilmu, berakhlak, dan bermanfaat bagi umat.

