Forum Parenting “Heartfull Parenting”, Yayasan Pendidikan Cendekia Muslim Ajak Orang Tua Hadir, Menyayangi, Dan Membangun Masa Depan Anak

Forum Parenting “Heartfull Parenting”, Yayasan Pendidikan Cendekia Muslim Ajak Orang Tua Hadir, Menyayangi, Dan Membangun Masa Depan Anak

Sijunjung, Sabtu, 31 Oktober 2026. Keluarga merupakan lingkungan pertama tempat seorang anak mengenal kasih sayang, nilai kehidupan, kebiasaan, dan cara berinteraksi dengan orang lain. Di dalam keluarga, anak tidak hanya membutuhkan pemenuhan kebutuhan sehari-hari, tetapi juga perhatian, pendampingan, keteladanan, serta kehadiran orang tua yang memberikan rasa aman. Kesadaran inilah yang menjadi dasar pentingnya membangun pola pengasuhan yang penuh perhatian dan bermakna.

Dalam rangka menguatkan pemahaman tersebut, Yayasan Pendidikan Cendekia Muslim menghadirkan Forum Parenting bertajuk “Heartfull Parenting” dengan tema “Menjadi Orang Tua yang Hadir, Menyayangi, dan Bermakna untuk Masa Depan Anak”. Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 31 Oktober 2026, mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai, bertempat di Aula Terbuka Sekolah Akhlak Cendekia Muslim, Sijunjung.

Forum parenting ini menjadi bagian dari perhatian Yayasan Pendidikan Cendekia Muslim terhadap pentingnya keterlibatan keluarga dalam perjalanan pendidikan dan pertumbuhan anak. Pendidikan tidak berlangsung hanya di lingkungan sekolah. Nilai-nilai yang diperkenalkan dalam proses pembelajaran akan semakin kuat ketika mendapatkan dukungan dan contoh nyata di rumah. Karena itu, hubungan yang baik antara orang tua dan anak merupakan salah satu unsur penting dalam menciptakan lingkungan tumbuh kembang yang sehat, hangat, dan mendukung.

Mengangkat tema “Heartfull Parenting”, forum ini mengajak orang tua untuk melihat kembali makna kehadiran dalam pengasuhan. Hadir bukan sekadar berada di tempat yang sama dengan anak, melainkan menyediakan perhatian, mendengarkan cerita, memahami kebutuhan, dan membangun komunikasi yang terbuka. Kasih sayang juga tidak hanya disampaikan melalui kata-kata, tetapi diwujudkan melalui tindakan sehari-hari, sikap yang sabar, batasan yang jelas, serta keteladanan yang dapat dilihat dan dirasakan oleh anak.

Kesibukan dan berbagai tanggung jawab sering kali membuat waktu keluarga terasa terbatas. Orang tua menjalankan pekerjaan, mengurus rumah tangga, dan memenuhi kebutuhan keluarga. Di tengah rutinitas tersebut, kualitas interaksi dengan anak perlu tetap mendapatkan perhatian. Anak membutuhkan kesempatan untuk berbicara, bertanya, menyampaikan perasaan, dan memperoleh tanggapan yang menunjukkan bahwa dirinya dihargai.

Kehadiran orang tua dapat dimulai dari kebiasaan sederhana. Misalnya, menyapa anak dengan penuh perhatian, menyediakan waktu untuk mendengarkan pengalamannya, menanyakan hal yang membuatnya senang atau kesulitan, serta mendampingi ketika anak sedang membutuhkan bantuan. Kebiasaan kecil yang dilakukan secara berulang dapat membangun kedekatan emosional dan membuat anak merasa memiliki tempat yang aman untuk kembali.

Mendengarkan juga merupakan bagian penting dari pengasuhan. Ketika anak bercerita, orang tua dapat memberikan perhatian tanpa terburu-buru menghakimi atau langsung mengambil alih pembicaraan. Dengan mendengarkan, orang tua memperoleh kesempatan memahami sudut pandang anak. Anak pun belajar bahwa pendapat dan perasaannya memiliki nilai, sekaligus belajar menyampaikan sesuatu dengan cara yang baik.

Kehadiran yang bermakna bukan berarti orang tua harus selalu memenuhi seluruh keinginan anak. Pengasuhan tetap membutuhkan aturan, arahan, dan batasan yang sesuai. Perbedaan terletak pada cara menyampaikannya. Aturan dapat diberikan dengan penjelasan yang mudah dipahami, sikap yang tenang, serta alasan yang membantu anak belajar bertanggung jawab.

Kasih sayang menjadi salah satu fondasi utama dalam hubungan orang tua dan anak. Namun, kasih sayang perlu hadir dalam bentuk yang dapat dirasakan. Perhatian terhadap kebutuhan anak, kesediaan mendampingi proses belajarnya, pemberian apresiasi atas usaha, serta sikap yang menghargai proses merupakan contoh nyata dari kasih sayang dalam kehidupan sehari-hari.

Setiap anak memiliki karakter, kebutuhan, dan tahapan perkembangan yang tidak selalu sama. Karena itu, orang tua perlu berusaha mengenali anak secara utuh, bukan hanya menilai dari hasil atau pencapaiannya. Anak yang sedang belajar mungkin membutuhkan waktu lebih panjang untuk memahami sesuatu. Dalam situasi seperti ini, pendampingan yang sabar dapat membantu anak membangun keberanian untuk mencoba kembali.

Apresiasi juga memiliki peran dalam membentuk kepercayaan diri. Orang tua dapat menghargai usaha, kejujuran, tanggung jawab, dan kemajuan kecil yang ditunjukkan anak. Penghargaan tidak harus selalu berupa hadiah. Ucapan terima kasih, pelukan, perhatian, atau pengakuan sederhana dapat menjadi penguatan positif ketika disampaikan secara tulus.

Di sisi lain, orang tua juga perlu memberikan teladan. Anak belajar bukan hanya dari nasihat, tetapi juga dari apa yang dilihat setiap hari. Cara orang tua berbicara, menyelesaikan perbedaan pendapat, meminta maaf, menepati janji, dan memperlakukan orang lain dapat menjadi pembelajaran langsung. Keteladanan membuat nilai-nilai yang disampaikan tidak berhenti sebagai teori, melainkan terlihat dalam perilaku nyata.

Masa depan anak tidak hanya ditentukan oleh pengetahuan akademik. Kemampuan mengelola emosi, berkomunikasi, menghormati orang lain, bertanggung jawab, dan mengambil keputusan juga menjadi bekal penting dalam kehidupan. Karakter tersebut tumbuh melalui proses panjang yang melibatkan keluarga, lingkungan pendidikan, dan masyarakat.

Rumah menjadi ruang pertama bagi anak untuk mengenal nilai-nilai dasar. Melalui rutinitas keluarga, anak dapat belajar mengucapkan terima kasih, meminta izin, menjaga kebersihan, menyelesaikan tanggung jawab, serta menghormati anggota keluarga. Kebiasaan yang sederhana dan dilakukan secara berulang dapat menjadi dasar pembentukan karakter.

Orang tua dapat mengajak anak berdiskusi tentang pilihan dan konsekuensi dengan bahasa yang sesuai usianya. Ketika terjadi kesalahan, situasi tersebut dapat digunakan sebagai kesempatan belajar. Anak diarahkan untuk memahami akibat dari tindakannya, memperbaiki kesalahan, dan mencoba melakukan hal yang lebih baik. Pendekatan ini membantu anak mengenal tanggung jawab sekaligus memperoleh kesempatan untuk berkembang.

Pendidikan karakter juga berkaitan dengan nilai-nilai keislaman yang ditanamkan dalam kehidupan keluarga. Sikap jujur, amanah, santun, peduli, menghormati orang tua, serta menyayangi sesama dapat diperkenalkan melalui pembiasaan dan contoh nyata. Nilai-nilai tersebut akan lebih mudah dipahami ketika anak menyaksikannya dalam perilaku orang-orang terdekat.

Forum Parenting “Heartfull Parenting” diselenggarakan sebagai ruang untuk memperkaya wawasan orang tua mengenai pendampingan anak. Kegiatan ini menghadirkan Mamanto Fani, S.Pt. sebagai pemateri. Ia diperkenalkan sebagai motivator dan praktisi pengembangan diri. Kehadiran pemateri diharapkan dapat memberikan sudut pandang dan penguatan mengenai pentingnya peran orang tua dalam membangun hubungan yang sehat dan mendukung perkembangan anak.

Melalui forum ini, orang tua diajak untuk tidak memandang pengasuhan sebagai tugas yang selesai ketika kebutuhan fisik anak terpenuhi. Pengasuhan merupakan proses yang terus berlangsung, membutuhkan kesediaan belajar, evaluasi, dan penyesuaian. Perubahan usia, pengalaman, serta kebutuhan anak dapat membuat pendekatan yang digunakan orang tua perlu terus diperhatikan.

Kegiatan parenting juga dapat menjadi kesempatan bagi orang tua untuk merefleksikan kebiasaan di rumah. Apakah komunikasi telah berjalan dengan baik? Apakah anak memperoleh ruang untuk menyampaikan pendapat? Apakah aturan keluarga diterapkan dengan jelas dan adil? Apakah orang tua telah memberikan contoh perilaku yang ingin ditanamkan? Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat menjadi bahan evaluasi yang bermanfaat tanpa harus menyalahkan diri sendiri.

Yayasan Pendidikan Cendekia Muslim memandang pendidikan sebagai proses yang memerlukan perhatian dari berbagai lingkungan kehidupan anak. Sekolah dan keluarga memiliki peran yang saling melengkapi. Sekolah memberikan pengalaman belajar yang terarah, sedangkan keluarga menjadi lingkungan keseharian tempat nilai dan kebiasaan terus dipraktikkan. Komunikasi yang baik antara keduanya dapat membantu menghadirkan pendampingan yang lebih menyeluruh.

Hubungan keluarga dengan lingkungan pendidikan perlu dibangun melalui komunikasi yang terbuka dan saling menghargai. Orang tua dapat menyampaikan informasi yang relevan mengenai kebutuhan anak, sementara pihak sekolah dapat memberikan gambaran tentang proses belajar dan perkembangan anak di lingkungan pendidikan. Pertukaran informasi ini membantu kedua pihak memahami anak dari sudut pandang yang lebih luas.

Keterlibatan orang tua tidak selalu harus diwujudkan melalui kegiatan besar. Menanyakan pengalaman anak setelah mengikuti pembelajaran, memperhatikan kebiasaan belajar, mendukung kegiatan positif, serta menjalin komunikasi dengan pihak sekolah merupakan bentuk partisipasi yang dapat dilakukan. Hal-hal tersebut menunjukkan bahwa pendidikan merupakan perhatian bersama.

Dalam membangun hubungan tersebut, penting untuk menghindari kebiasaan membandingkan anak dengan anak lain. Setiap anak memiliki perjalanan perkembangan masing-masing. Perbandingan yang tidak tepat dapat membuat anak merasa kurang dihargai. Sebaliknya, perhatian terhadap kemajuan diri sendiri membantu anak mengenali potensi, memperbaiki kekurangan, dan menghargai proses yang sedang dijalani.

Orang tua juga perlu memberikan ruang bagi anak untuk belajar mandiri sesuai tahap perkembangannya. Mendampingi bukan berarti mengerjakan semua hal untuk anak. Orang tua dapat memberikan arahan, contoh, dan dukungan, kemudian memberi kesempatan kepada anak untuk mencoba. Ketika anak melakukan kesalahan, pendampingan dapat diarahkan pada proses memperbaiki, bukan sekadar memberikan hukuman.

Nilai-nilai yang dibahas dalam forum parenting dapat diterapkan melalui langkah-langkah sederhana di rumah. Orang tua dapat memulai dengan menyediakan waktu khusus untuk berinteraksi tanpa gangguan, misalnya saat makan bersama atau sebelum anak beristirahat. Waktu tersebut dapat digunakan untuk saling bercerita dan membangun kedekatan.

Langkah berikutnya adalah membiasakan komunikasi yang menghargai. Orang tua dapat menggunakan kalimat yang jelas, tidak merendahkan, dan berfokus pada perilaku yang perlu diperbaiki. Ketika anak melakukan kesalahan, jelaskan tindakan yang kurang tepat dan ajak anak memikirkan cara memperbaikinya. Cara berkomunikasi seperti ini membantu anak memahami pesan tanpa merasa dirinya ditolak.

Orang tua juga dapat membangun rutinitas keluarga yang mendukung nilai positif, seperti berdoa bersama, membaca, merapikan barang setelah digunakan, berbagi tugas rumah, dan membiasakan ucapan yang santun. Rutinitas tidak harus rumit. Hal terpenting adalah kesesuaian dengan kondisi keluarga dan kesediaan menjalankannya sebagai kebiasaan.

Selain itu, orang tua perlu memperhatikan penggunaan perangkat digital dalam keluarga. Kesepakatan mengenai waktu dan tujuan penggunaan gawai dapat dibicarakan bersama anak sesuai usia dan kebutuhannya. Orang tua juga perlu memberikan contoh dengan mengatur penggunaan perangkat ketika sedang berinteraksi dengan keluarga. Dengan demikian, aturan tidak hanya dibebankan kepada anak, tetapi menjadi komitmen bersama.

Pengasuhan yang penuh perhatian juga mengakui bahwa orang tua adalah manusia yang terus belajar. Ada kalanya orang tua merasa lelah, kurang sabar, atau belum menemukan cara terbaik untuk menghadapi situasi tertentu. Kesadaran tersebut dapat menjadi awal untuk memperbaiki pola komunikasi, meminta maaf ketika diperlukan, dan mencari pengetahuan yang membantu proses pengasuhan.

Penyelenggaraan Forum Parenting “Heartfull Parenting” memperlihatkan perhatian Yayasan Pendidikan Cendekia Muslim terhadap pentingnya peran keluarga dalam mendukung pendidikan. Upaya membangun generasi yang berilmu dan berakhlak tidak hanya berkaitan dengan proses pembelajaran di sekolah, tetapi juga dengan suasana rumah dan kebiasaan yang tumbuh di tengah keluarga.

Melalui tema yang diangkat, orang tua diingatkan bahwa kehadiran, kasih sayang, dan keteladanan merupakan bagian penting dari perjalanan anak. Anak membutuhkan dukungan untuk mengenali kemampuan dirinya, keberanian untuk belajar, serta arahan ketika menghadapi kesulitan. Semua itu dapat tumbuh melalui hubungan yang dibangun dengan komunikasi dan perhatian.

Bagi Yayasan Pendidikan Cendekia Muslim, forum seperti ini menjadi salah satu ruang untuk mengajak keluarga melihat pendidikan secara lebih utuh. Peran orang tua bukan sekadar mendukung kegiatan belajar, melainkan turut membangun lingkungan yang menumbuhkan kebiasaan baik, karakter, dan nilai kehidupan. Keluarga yang memberikan perhatian terhadap proses anak dapat menjadi fondasi penting bagi tumbuhnya pribadi yang bertanggung jawab dan berakhlak.

Pada akhirnya, menjadi orang tua yang bermakna bukan tentang menjadi sosok yang selalu sempurna, melainkan kesediaan untuk terus hadir, belajar, memperbaiki diri, dan membersamai anak dalam setiap tahap pertumbuhannya. Perhatian sederhana yang diberikan dengan tulus dapat menjadi bagian berharga dalam membangun rasa aman dan kedekatan di dalam keluarga.

Melalui Forum Parenting “Heartfull Parenting”, Yayasan Pendidikan Cendekia Muslim mengajak orang tua untuk menjadikan pengasuhan sebagai perjalanan belajar bersama. Anak-anak membutuhkan pendidikan yang baik, sekaligus orang tua yang bersedia tumbuh dan menjadi teladan. Dengan kehadiran yang penuh perhatian, kasih sayang yang diwujudkan dalam tindakan, serta pendampingan yang bermakna, keluarga dapat mengambil peran penting dalam menyiapkan masa depan anak.

Semoga kegiatan ini menjadi ruang yang bermanfaat untuk memperluas wawasan, memperkuat kesadaran, dan menginspirasi langkah-langkah sederhana dalam kehidupan keluarga. Sebab, masa depan anak dibangun bukan hanya melalui apa yang diajarkan kepada mereka, tetapi juga melalui kasih sayang, nilai, dan contoh kehidupan yang mereka saksikan setiap hari.