Gema Wahyu di Perbukitan Sijunjung: Tradisi Murojaah Pasca-Istirahat Perkuat Karakter Santri Akhlak Cendekia Muslim
SIJUNJUNG, Mentari di ufuk timur Kabupaten Sijunjung mulai meninggi pada Jumat pagi, 21 Agustus 2026. Di sepanjang koridor Jalan Cendekia Muslim, suasana yang tadinya riuh oleh tawa dan canda para santri saat menikmati jam istirahat pertama, perlahan-lahan berubah menjadi ketenangan yang menyejukkan. Tepat saat bel penanda berakhirnya waktu istirahat berbunyi, sebuah transformasi spiritual dimulai. Seluruh santri Sekolah Akhlak Cendekia Muslim, mulai dari jenjang dasar hingga menengah, bergegas merapikan diri untuk mengikuti aktivitas rutin yang telah menjadi jantung dari kurikulum sekolah ini: mengaji dan murojaah hafalan Al-Qur’an.
Kegiatan ini bukan sekadar pengisi waktu transisi, melainkan sebuah desain pendidikan holistik yang dirancang oleh manajemen sekolah. Memilih waktu tepat setelah istirahat pertama dianggap sebagai strategi pedagogis yang cerdas; di saat energi fisik santri telah pulih setelah makan dan bermain, jiwa mereka kemudian "diberi nutrisi" kembali melalui interaksi dengan kalam Ilahi. Hal ini memastikan bahwa fokus santri tetap terjaga dan hati mereka kembali tenang sebelum melanjutkan materi pelajaran akademik berikutnya.
Pemandangan di kompleks pendidikan Akhlak Cendekia Muslim Sijunjung pada Jumat siang ini tampak begitu syahdu. Para santri tidak hanya berkumpul di dalam ruang kelas, tetapi juga menyebar ke berbagai fasilitas pendukung yang asri. Ada kelompok-kelompok kecil atau halaqah yang duduk melingkar di aula terbuka, ada yang memanfaatkan keteduhan taman sekolah, dan sebagian besar memenuhi masjid utama.
Di bawah bimbingan para ustadz dan ustadzah yang bertindak sebagai Murabbi, setiap santri membuka mushaf Al-Qur’an mereka. Suara lantunan ayat-ayat suci mulai menggema bersahutan, menciptakan simfoni spiritual yang memecah keheningan perbukitan Sijunjung. Fokus utama pada hari Jumat ini adalah murojaah atau mengulang hafalan yang telah didapatkan selama sepekan terakhir. Proses ini sangat krusial untuk memastikan bahwa hafalan Al-Qur’an tidak hanya sekadar singgah di ingatan jangka pendek, tetapi tertanam kuat dalam sanubari para santri.
Setiap ustadz pendamping dengan teliti menyimak bacaan santri satu per satu. Mereka memberikan koreksi pada aspek tahsin—seperti makharijul huruf dan tajwid—sambil sesekali memberikan penjelasan singkat mengenai makna ayat yang sedang dibaca. Pendekatan yang personal dan penuh kasih sayang ini membuat santri merasa nyaman dan termotivasi untuk terus meningkatkan kualitas bacaan mereka.
Sekolah Akhlak Cendekia Muslim Sijunjung memiliki visi besar untuk mencetak generasi yang cerdas secara intelektual namun tetap memiliki akar spiritual yang kokoh. Tradisi mengaji pasca-istirahat ini adalah manifestasi nyata dari visi tersebut. Narasi yang dikembangkan di lingkungan sekolah menekankan bahwa Al-Qur’an adalah sumber segala ilmu pengetahuan. Dengan membiasakan santri berinteraksi dengan Al-Qur’an di tengah hari efektif, sekolah ingin menanamkan pesan bahwa dalam situasi sesibuk apa pun, seorang muslim harus selalu meluangkan waktu untuk Tuhannya.
Pengaturan jadwal ini juga berdampak positif pada kedisiplinan santri. Transisi dari waktu bermain saat istirahat menuju waktu mengaji yang tenang melatih santri untuk mampu mengelola emosi dan mengendalikan diri. Ketegasan dalam ketepatan waktu memulai murojaah menjadi bagian dari pendidikan karakter yang tidak terlihat namun dirasakan manfaatnya secara jangka panjang.
Keamanan dan kenyamanan lingkungan di Jalan Cendekia Muslim, yang didukung penuh oleh perangkat Nagari dan Bapak Jorong Pale, memberikan ruang bagi santri untuk benar-benar khusyuk. Jauh dari kebisingan jalan raya utama, udara segar Sijunjung yang masuk melalui celah-celah aula terbuka membantu pasokan oksigen ke otak, sehingga proses menghafal dan mengulang ayat menjadi lebih efektif dibandingkan di lingkungan yang pengap atau bising.
Dalam proses murojaah pada Jumat, 21 Agustus ini, terlihat antusiasme yang luar biasa dari para santri jenjang menengah (SMP). Mereka tidak lagi sekadar mengulang hafalan karena kewajiban, melainkan tampak sudah menjadikannya sebagai kebutuhan. Beberapa santri terlihat saling menyimak hafalan teman sejawatnya (tasmi’), sebuah praktik yang menumbuhkan rasa tanggung jawab kolektif dan mempererat ikatan ukhuwah di antara mereka.
Pihak manajemen sekolah terus melakukan inovasi dalam memantau perkembangan hafalan santri. Setiap hari Jumat, hasil murojaah dicatat secara mendetail dalam buku kendali prestasi santri. Hal ini memungkinkan para guru untuk mendeteksi sejak dini jika ada santri yang mengalami kesulitan dalam hafalan tertentu, sehingga bantuan dan motivasi tambahan dapat segera diberikan.
Narasi yang dibangun oleh para pendidik di kelas menekankan bahwa setiap huruf yang dibaca adalah investasi masa depan. Di Sijunjung, Sekolah Akhlak Cendekia Muslim ingin membuktikan bahwa standar pendidikan modern bisa berjalan beriringan dengan nilai-nilai tradisional pesantren yang luhur. Al-Qur’an tidak diletakkan di menara gading, melainkan dijadikan sahabat harian dalam setiap jengkal aktivitas di sekolah.
Dukungan infrastruktur yang disediakan oleh Yayasan Pendidikan Cendekia Muslim sangat menunjang keberhasilan tradisi ini. Gerbang utama yang tertata rapi memastikan tidak ada gangguan dari luar yang masuk ke area belajar, sementara penataan taman yang asri menyediakan "ruang bernapas" bagi jiwa santri. Masyarakat Sijunjung secara luas pun mulai merasakan dampak positif dari keberadaan sekolah ini, di mana santri-santri Akhlak Cendekia Muslim dikenal memiliki sopan santun dan adab yang baik saat berada di luar lingkungan sekolah.
Kegiatan mengaji dan murojaah ini diakhiri menjelang persiapan salat Jumat bagi santri laki-laki. Penutupan sesi dilakukan dengan doa bersama yang dipimpin oleh salah satu santri secara bergantian, sebuah latihan kepemimpinan yang sederhana namun bermakna. Wajah-wajah yang segar dan tenang tampak menyelimuti seluruh area sekolah saat mereka bersiap melaksanakan ibadah berikutnya.
Yayasan Pendidikan Cendekia Muslim berharap, melalui konsistensi aktivitas murojaah pasca-istirahat ini, para santri tidak hanya lulus dengan nilai akademik yang memuaskan, tetapi juga membawa "cahaya" Al-Qur’an dalam karakter mereka. Di bumi Lansek Manih, sebuah generasi baru sedang dipersiapkan—generasi yang tidak hanya mahir dalam sains dan teknologi, tetapi juga fasih melantunkan wahyu dan teguh dalam menjalankan adab Islami. Setiap hari Jumat di Jalan Cendekia Muslim akan selalu menjadi saksi bisu bagaimana kecerdasan dan keimanan ditenun menjadi satu dalam jiwa para pemimpin masa depan.

