Membasuh Khilaf, Membangun Sinergi: Momentum Halalbihalal 1447 H Sekolah Akhlak Cendekia Muslim Sijunjung di Ambang Masa Depan Pendidikan

Membasuh Khilaf, Membangun Sinergi: Momentum Halalbihalal 1447 H Sekolah Akhlak Cendekia Muslim Sijunjung di Ambang Masa Depan Pendidikan

SIJUNJUNG, — Gema takbir mungkin telah berlalu, namun semangat kemenangan dan kesucian Idul Fitri 1447 Hijriah masih terasa kental di Kabupaten Sijunjung. Pada Kamis pagi (26/3/2026), suasana di kompleks Yayasan Pendidikan Cendekia Muslim tampak berbeda. Ratusan senyum merekah dari wajah para pejuang pendidikan—guru dan staf Sekolah Akhlak Cendekia Muslim—saat mereka melangkah menuju Mushola Yayasan untuk mengikuti agenda tahunan: Halalbihalal.

Pertemuan ini bukan sekadar rutinitas kalender kerja pasca-libur lebaran. Ia adalah ruang kontemplasi, tempat di mana ego dileburkan dan ukhuwah (persaudaraan) kembali dirajut erat demi menyongsong tugas mulia mendidik tunas bangsa.

Acara diawali dengan sambutan hangat dari jajaran Sekretariat Yayasan Pendidikan Cendekia Muslim. Dalam pidato pembukaannya, Sekretariat menekankan bahwa kekuatan sebuah institusi pendidikan tidak hanya terletak pada kurikulum yang canggih, melainkan pada kedalaman hubungan antar-manusia di dalamnya.

"Kita berdiri di sini sebagai satu tubuh. Jika ada satu bagian yang merasa sakit atau kurang nyaman karena interaksi selama setahun ke belakang, maka hari ini adalah obatnya. Sekretariat mengapresiasi dedikasi seluruh guru yang tetap menjaga semangat 'Akhlak' bahkan di masa liburan," ujar perwakilan Sekretariat Yayasan di hadapan para hadirin yang duduk bersimpuh khidmat.

Pembukaan ini sekaligus menandai dimulainya kembali operasional pendidikan di sekolah tersebut dengan semangat yang telah diperbarui (recharged).

 

"Kita baru saja melewati bulan perjuangan Ramadan 1447 H. Hari ini, di mushola ini, kita tidak hanya bersalaman secara fisik, tetapi kita sedang menyatukan kembali frekuensi hati yang mungkin sempat terganggu oleh dinamika pekerjaan. Tanpa hati yang bersih dan ukhuwah yang solid, mustahil kita bisa menanamkan akhlak ke dalam jiwa anak didik kita," ungkap beliau dengan nada penuh haru.

 

Ada pemandangan unik yang menghiasi sudut-sudut Mushola Yayasan pagi itu. Meja-meja panjang dipenuhi dengan berbagai wadah makanan. Sesuai dengan kesepakatan bersama, setiap guru dan staf membawa kue lebaran dari rumah masing-masing untuk dinikmati bersama.

Tradisi ini, meski tampak sederhana, mengandung filosofi berbagi yang mendalam. Dari nastar yang legit, kastengel yang gurih, hingga penganan tradisional khas Sijunjung, semuanya tersaji secara swadaya. Tidak ada perbedaan status; kue dari pimpinan yayasan bersanding dengan kue dari staf administrasi dan guru honorer.

"Makan kue bersama ini adalah simbol bahwa apa yang kita miliki adalah milik bersama. Setiap guru membawa cerita dari rumahnya masing-masing melalui makanan ini. Ini bukan soal rasa kue semata, tapi soal kerelaan untuk berbagi kebahagiaan," ungkap salah satu guru senior yang telah mengabdi bertahun-tahun di Sekolah Akhlak tersebut.

Suasana makan bersama ini mencairkan segala kekakuan. Gelak tawa pecah saat para staf saling mencicipi dan memuji hidangan rekan sejawatnya. Di sinilah dialog-dialog informal terjadi, memperkuat ikatan emosional yang seringkali sulit dibangun di tengah kesibukan mengajar sehari-hari.

Pemilihan Mushola Yayasan sebagai lokasi Halalbihalal bukanlah tanpa alasan. Sebagai Sekolah Akhlak, mushola adalah jantung dari seluruh aktivitas spiritual. Dengan melaksanakan Halalbihalal di tempat suci ini, diharapkan setiap ucapan maaf yang terlontar benar-benar datang dari ketulusan hati yang paling dalam.

Di bawah atap mushola tersebut, para guru diingatkan kembali akan peran mereka sebagai uswatun hasanah (teladan yang baik). Keharmonisan yang tercipta di antara para pendidik hari ini diharapkan akan menular kepada para siswa saat proses belajar mengajar dimulai kembali.

Setelah sesi ramah tamah dan makan kue bersama, acara dilanjutkan dengan doa bersama. Doa tersebut dipanjatkan untuk keselamatan bangsa, kemajuan yayasan, serta kekuatan bagi para guru dalam membimbing siswa-siswi Sekolah Akhlak Cendekia Muslim menjadi pribadi yang berintegritas di masa depan.

Halalbihalal 1447 H ini ditutup dengan sesi foto bersama yang penuh keceriaan. Langkah kaki para guru saat meninggalkan mushola terasa lebih ringan. Mereka tidak hanya membawa sisa kue di dalam wadah, tetapi juga membawa semangat baru, komitmen yang lebih kuat, dan hati yang telah bersih dari prasangka.

Kabupaten Sijunjung menjadi saksi bahwa di Sekolah Akhlak Cendekia Muslim, pendidikan karakter tidak hanya diajarkan di dalam kelas melalui buku teks, tetapi dipraktikkan nyata melalui tradisi silaturahmi yang penuh kasih sayang.