Menggetarkan Hati Melalui Kata: Tasrial Efendi, M.Pd. Tutup Rangkaian Daurah Asasiyah Cendekia Muslim Sijunjung dengan Seni Public Speaking

Menggetarkan Hati Melalui Kata: Tasrial Efendi, M.Pd. Tutup Rangkaian Daurah Asasiyah Cendekia Muslim Sijunjung dengan Seni Public Speaking

SIJUNJUNG, Puncak dari rangkaian kegiatan intensif Daurah Asasiyah Li Al-Murabbi (Nashir) yang berlangsung selama dua hari di Kabupaten Sijunjung akhirnya mencapai puncaknya pada Minggu sore, 9 Agustus 2026. Setelah para peserta ditempa dengan materi ideologi, kedisiplinan fisik, kesiapsiagaan medis, hingga ketangkasan bertahan hidup di alam, agenda besar ini ditutup dengan sebuah materi yang menjadi "ruh" dari profesi seorang pendidik: Public Speaking.

Materi penutup yang sangat dinantikan ini disampaikan oleh pakar komunikasi dan akademisi berpengalaman, Tasrial Efendi, M.Pd. Kegiatan yang dipusatkan di Aula Terbuka Yayasan Pendidikan Cendekia Muslim ini diikuti oleh seluruh jajaran guru dari unit KB, TK, SD, hingga SMP, serta staf LP2 dan Sekretariat. Kehadiran Tasrial Efendi memberikan dimensi baru bagi para peserta mengenai bagaimana mengubah kata-kata menjadi kekuatan yang mampu menggerakkan hati dan pikiran santri.

Dalam paparannya yang memukau, Tasrial Efendi, M.Pd. menekankan bahwa bagi seorang Murabbi atau Nashir di lingkungan Cendekia Muslim, kemampuan berbicara di depan umum bukan sekadar teknik retorika untuk memukau audiens. Lebih dari itu, public speaking adalah alat dakwah dan instrumen edukasi untuk mentransfer nilai-nilai akhlakul karimah kepada para santri di Ranah Lansek Manih.

Beliau membedah berbagai teknik komunikasi efektif, mulai dari pengolahan vokal (intonasi dan artikulasi), penguasaan bahasa tubuh (gesture), hingga pentingnya melakukan kontak mata yang tulus kepada santri. Tasrial juga menyoroti aspek psikologi komunikasi, di mana seorang guru harus mampu mengenali karakteristik audiensnya agar pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik.

 

"Seorang guru yang baik bicara ke kepala, tapi seorang Murabbi yang hebat bicara ke hati. Public speaking di kelas bukan tentang seberapa pintar kita berbicara, tapi seberapa mampu kita membuat santri merasa didengarkan dan terinspirasi. Di Sijunjung ini, kita butuh pendidik yang suaranya tidak hanya memenuhi ruangan, tapi juga menetap di jiwa para santri," ujar Tasrial Efendi, M.Pd. dengan penuh semangat.

Sesi ini berlangsung sangat interaktif. Para guru diajak melakukan praktik langsung (micro-speaking), di mana mereka ditantang untuk menyampaikan pesan singkat yang inspiratif dalam waktu dua menit. Tasrial memberikan evaluasi langsung terhadap gaya bicara, cara berdiri, hingga pemilihan diksi para peserta, sehingga suasana aula menjadi sangat dinamis dan penuh tawa sekaligus sarat akan ilmu.

Materi ini diposisikan sebagai materi penutup karena Yayasan Pendidikan Cendekia Muslim menyadari bahwa seluruh kompetensi yang telah dipelajari selama dua hari—baik itu wawasan kebangsaan, medis, maupun kepanduan—tidak akan tersampaikan secara optimal jika tidak dibarengi dengan kemampuan komunikasi yang baik. Seorang Nashir (penolong/penggerak) harus menjadi komunikator yang ulung untuk menyebarkan visi yayasan kepada masyarakat luas di Kabupaten Sijunjung.

"Kami ingin guru-guru kami di Sijunjung menjadi sosok yang berwibawa namun tetap hangat dalam berkomunikasi. Kemampuan public speaking yang diajarkan hari ini akan menjadi modal utama saat mereka berhadapan dengan santri di kelas maupun saat berinteraksi dengan wali murid. Kami ingin setiap kata yang keluar dari lisan pendidik Cendekia Muslim adalah kata-kata yang mengandung hikmah," ungkap Ketua Yayasan.

Pelaksanaan sesi penutup pada Minggu sore ini menjadi bukti nyata dedikasi tanpa batas dari para pendidik dan pegawai Yayasan Pendidikan Cendekia Muslim. Di saat Jalan Cendekia Muslim Sijunjung biasanya tenang di hari libur, para pejuang pendidikan ini justru menutup pekan dengan peningkatan kapasitas diri yang luar biasa.

Namun, di balik semangat tinggi para guru, Yayasan Pendidikan Cendekia Muslim tetap memegang teguh prinsip manajemen yang humanis dan berpihak pada kesejahteraan santri. Pihak yayasan memahami bahwa keberhasilan pendidikan karakter juga sangat bergantung pada keseimbangan waktu istirahat santri, terutama pada jenjang usia dini.

Sesuai dengan kebijakan strategis yayasan yang berlaku di Sijunjung, seluruh santri jenjang Kelompok Bermain (KB) Akhlak Cendekia Muslim tetap mendapatkan hak istimewa berupa jadwal libur pada setiap hari Sabtu. Kebijakan ini merupakan bentuk perlindungan yayasan terhadap masa keemasan anak (Golden Age) agar mereka tidak mengalami kelelahan belajar yang berlebihan.

Dengan memberikan libur Sabtu bagi santri KB, yayasan memastikan bahwa anak-anak memiliki waktu yang cukup untuk bermain secara bebas dan membangun kedekatan emosional dengan orang tua di rumah. Pola manajemen ini menciptakan harmoni: para guru ditingkatkan kualitasnya melalui Daurah di akhir pekan, sementara para santri kecil dijaga kebahagiaannya melalui waktu istirahat yang cukup. Sinergi inilah yang membuat Sekolah Akhlak Cendekia Muslim Sijunjung selalu tampil prima di setiap hari efektif sekolah.

Dengan berakhirnya materi public speaking oleh Tasrial Efendi, M.Pd., rangkaian Daurah Asasiyah Li Al-Murabbi (Nashir) 2026 secara resmi ditutup. Acara diakhiri dengan sesi foto bersama dan penyerahan sertifikat secara simbolis. Suasana haru dan bangga menyelimuti Aula Terbuka saat seluruh peserta mengikrarkan kembali komitmen mereka untuk menjadi pendidik yang berakhlak dan profesional.

Yayasan Pendidikan Cendekia Muslim berharap, ilmu yang didapat selama dua hari di Sijunjung ini—mulai dari materi Kenashiran hingga Public Speaking—dapat segera diimplementasikan dalam proses belajar-mengajar harian. Dengan berakhirnya Daurah ini, dimulailah babak baru perjuangan para Murabbi untuk mencetak generasi cendekia yang akan membawa kemajuan bagi Kabupaten Sijunjung dan bangsa Indonesia.